Arsip Kategori: Kesehatan

Berita Kesehatan Terkini Hari Ini, Tpis dan Trik Hidup Sehat dan Seputar Kesehatan.

Peran Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dan Kondisi yang Ditanganinya

Peran Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dan Kondisi yang Ditanganinya

Olahraga merupakan aktivitas yang melibatkan banyak gerakan. Meskipun menyehatkan, olahraga bisa juga menyebabkan cedera atau gangguan kesehatan. Di sinilah peran dokter spesialis kedokteran olahraga dibutuhkan.

Dokter spesialis kedokteran olahraga adalah dokter yang memiliki keahlian khusus dalam melayani pemulihan serta pencegahan cedera maupun penyakit yang berkaitan dengan olahraga. Untuk mendapatkan gelar spesialis kedokteran olahraga (SpKO), seorang dokter umum harus menjalani pendidikan dokter spesialis dalam bidang ini. Lama pendidikannya minimal 3,5 tahun.

Dokter spesialis kedokteran olahraga bertanggung jawab untuk mendiagnosis dan menangani pasien dengan masalah kesehatan yang berkaitan dengan olahraga. Biasanya, dokter spesialis kedokteran olahraga juga menjadi bagian dari tim medik atlet pada program pelatihan dan kejuaraan olahraga.

Kondisi yang Dapat Ditangani Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga
Penanganan yang diberikan oleh dokter spesialis kedokteran olahraga untuk mengatasi cedera atau gangguan pada tulang dan otot akibat olahraga bisa berupa pemberian obat, terapi, atau penggunaan alat bantu, tanpa tindakan operasi.

Jika pasien mengalami cedera yang perlu ditangani dengan operasi, dokter spesialis olahraga akan merujuknya kepada dokter ortopedi.

Selain masalah tulang dan otot, dokter spesialis kedokteran olahraga juga bertanggung jawab atas kesehatan atlet secara umum, mulai dari kondisi fisik, status gizi, hingga keadaan psikologisnya.

Apa yang Perlu Disiapkan Saat Mengunjungi Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga?
Untuk mendiagnosis dan menangani keluhan Anda, dokter spesialis kedokteran olahraga akan menanyakan riwayat keluhan Anda secara lengkap. Dokter juga akan menanyakan riwayat kesehatan Anda secara menyeluruh, termasuk alergi, riwayat konsumsi obat, riwayat penyakit terdahulu, dan siklus menstruasi bagi para wanita.

Khusus cedera, Anda mungkin akan ditanya mengenai tanggal terjadinya cedera, kronologi terjadinya cedera, riwayat pengobatan dan perawatan cedera, riwayat cedera terdahulu, dan riwayat operasi.

Dokter membutuhkan informasi yang lengkap terkait keluhan dan riwayat kesehatan Anda secara umum. Oleh karena itu, pastikan Anda sudah mengumpulkan informasi-informasi ini dengan lengkap untuk memudahkan dokter menentukan diagnosis dan penanganan yang tepat untuk Anda.

Jika keluhan berhubungan dengan persendian atau sistem tulang dan otot, biasanya dokter perlu memeriksa bagian tersebut dengan menggerakkannya. Oleh karena itu, Anda dianjurkan mengenakan pakaian yang longgar dan dapat memudahkan dokter saat pemeriksaan fisik.

Selain itu, Anda juga disarankan membawa hasil pemeriksaan tambahan, seperti pemeriksaan radiologi dan laboratorium yang pernah Anda jalani sebelumnya bila pernah memeriksakan keluhan ini di tempat lain.

Masalah kesehatan yang terkait dengan olahraga ada banyak ragamnya, mulai dari terkilir hingga asma. Jika Anda mengalami keluhan yang timbul karena olahraga dan tidak bersifat darurat, Anda bisa mengunjungi dokter spesialis kedokteran olahraga.

Mengenal Peran Dokter Ortopedi Ahli Spine

Mengenal Peran Dokter Ortopedi Ahli Spine

Dokter ortopedi ahli spine adalah dokter yang memiliki keahlian khusus untuk menangani masalah kesehatan pada tulang belakang, baik itu dengan operasi maupun tanpa operasi.

Sebelum meraih gelar subspesialis ahli spine, seorang dokter umum harus menyelesaikan program pendidikan dokter spesialis ortopedi guna meraih gelar Sp.OT. Setelah itu, studinya dilanjutkan lagi dengan mendalami tulang belakang untuk mendapatkan gelar Sp.OT(K).

Kondisi Medis yang Bisa Ditangani Dokter Ortopedi Ahli Spine
Dokter ortopedi ahli spine memiliki pengetahuan mendalam mengenai pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit serta cedera pada tulang belakang. Dokter subspesialis ini dapat menangani pasien di segala usia, mulai dari bayi hingga orang lanjut usia (lansia).

Tindakan yang Dilakukan oleh Dokter Ortopedi Ahli Spine
Dokter ortopedi ahli spine terlatih untuk melakukan berbagai tindakan medis guna mengatasi gangguan kesehatan yang berkaitan dengan tulang belakang dan area di sekitarnya, baik itu tindakan bedah ataupun nonbedah.

Sebelum melakukan tindakan medis, dokter ortopedi ahli spine akan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan fisik dan tes penunjang untuk memastikan diagnosis, seperti foto Rontgen, BMD, CT scan dan MRI. Nantinya, pengobatan akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan ini.

Contoh tindakan nonbedah yang dapat diberikan oleh dokter ortopedi ahli spine meliputi obat-obatan, anjuran berolahraga, serta rujukan untuk menjalani fisioterapi.

Sementara itu, tindakan bedah yang bisa dilakukan oleh dokter ortopedi ahli spine meliputi:

  1. Bedah invasif minimal

Operasi ini tidak memerlukan sayatan yang besar dan tidak melukai banyak jaringan di sekitar tulang belakang, sehingga risiko komplikasi lebih rendah dan masa pemulihan yang lebih singkat.

Contoh penyakit yang bisa ditangani dengan tindakan bedah invasif minimal adalah HNP, tumor spinal yang kecil, dan kifosis.

  1. Bedah terbuka

Pada operasi ini, diperlukan sayatan yang besar untuk menjangkau daerah yang bermasalah. Contoh penyakit yang memerlukan tindakan bedah terbuka adalah osteoarthritis, tumor spinal yang besar, dan patah tulang belakang.

  1. Penggantian cakram tulang belakang total

Operasi ini dilakukan untuk mengganti total cakram tulang belakang yang telah rusak dengan cakram buatan.

Anda juga disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter ortopedi ahli spine ketika mendapatkan hantaman atau benturan pada tulang belakang, misalnya akibat kecelakaan saat berkendara, jatuh dari ketinggian, atau menghantam benda keras saat berolahraga.

Sebelum memeriksakan diri ke dokter ortopedi ahli spine, catat semua gejala dan keluhan yang Anda rasakan. Catat juga kegiatan apa yang memperparah dan meringankan keluhan, atau bila ada, kejadian awal yang menyebabkan timbulnya keluhan.

Jangan lupa juga untuk mencatat riwayat medis Anda secara lengkap, termasuk riwayat pengobatan, riwayat penyakit terdahulu, dan riwayat penyakit dalam keluarga. Memberitahukan hal ini akan memudahkan dokter untuk mendiagnosis penyakit yang Anda alami

Kutil di Leher Dapat Menular, Cari Tahu Cara Mengatasinya

Kutil di Leher Dapat Menular, Cari Tahu Cara Mengatasinya

Kutil di leher umumnya tidak berbahaya dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun, benjolan di kulit ini bisa menular dan semakin besar sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada siapa pun yang mengalaminya.

Kutil di leher disebabkan oleh infeksi virus HPV dan dapat menyerang siapa saja. Namun, tumbuhnya kutil di bagian lehe judi bola resmi r lebih berisiko dialami oleh orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya anak-anak atau lansia.

Selain itu, orang dengan kondisi medis tertentu, misalnya penderita HIV/AIDS atau orang yang menjalani transplantasi organ, juga rentan mengalami penyakit kutil.

Cara Penularan Kutil di Leher
Kutil di leher umumnya berwarna kelabu, berbentuk bulat, dan bertekstur kasar. Selain itu, kutil di leher juga tampak seperti lipatan kulit atau menyerupai daging tumbuh seukuran jerawat.

Kutil muncul ketika virus HPV dari bagian tubuh lain maupun orang lain menyebar ke kulit, misalnya ketika Anda menyentuh kutil lalu menggaruk leher. Penyebaran virus HPV juga bisa melalui penggunaan peralatan pribadi, seperti handuk, yang bergantian dengan orang yang memiliki kutil.

Oleh karena itu, penting untuk tidak menyentuh apalagi menggaruk kutil yang tumbuh, serta hindari berbagi penggunaan peralatan pribadi dengan orang lain agar penularan kutil dapat dicegah. Jangan lupa untuk segera mencuci tangan bila tidak sengaja menyentuh kutil.

Cara Mengatasi Kutil di Leher

Kutil di leher umumnya dapat ditangani dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Penggunaan obat-obatan medis

Kutil di leher dapat diatasi menggunakan beberapa jenis obat kutil, seperti asam salisilat atau asam glikolat, yang dapat membantu pengelupasan kulit. Dengan begitu, kutil dapat terkelupas dengan sendirinya.

  1. Krioterapi

Ini merupakan prosedur medis yang paling umum digunakan untuk mengatasi kutil di leher. Krioterapi atau bedah beku adalah prosedur medis yang melibatkan penggunaan cairan nitrogen untuk membekukan kutil dan menghancurkannya.

  1. Bedah listrik dan kuretase

Prosedur bedah listrik dan kuretase sering kali dilakukan secara bersamaan guna mengatasi kutil di leher. Bedah listrik adalah proses pengeringan kutil, sedangkan kuretase merupakan proses pengangkatan kutil yang telah kering.

  1. Terapi laser

Terapi laser digunakan apabila kutil di leher tidak dapat diatasi dengan cara-cara sebelumnya. Agar pasien tidak merasa sakit, dokter bedah akan memberikan bius lokal sebelum terapi dimulai.

Mengenal Profesi Dokter Ortopedi Ahli Sport dan Artroskopi Ortopedi

Mengenal Profesi Dokter Ortopedi Ahli Sport dan Artroskopi Ortopedi

Dokter ortopedi ahli sport dan artroskopi ortopedi adalah dokter yang memiliki keahlian untuk menangani kasus cedera tulang, sendi, otot, dan jaringan ikat akibat kecelakaan dalam olahraga. Tak hanya menangani para atlet, dokter subspesialis ini juga menangani cedera akibat olahraga pada pasien nonatlet.

Olahraga merupakan aktivitas yang penting untuk dilakukan secara rutin, karena baik bagi kesehatan tubuh dan mental. Tak hanya itu, rutin berolahraga juga dapat menurunkan risiko berbagai jenis penyakit, seperti diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit jantung.

Meski demikian, apa pun jenis olahraga yang dilakukan, Anda dianjurkan untuk tetap berhati-hati dan waspada. Bila tidak, Anda bisa saja mengalami cedera. Sebagian kasus cedera akibat olahraga bahkan bisa cukup parah hingga menyebabkan kecacatan.

Risiko cedera saat berolahraga lebih sering dialami oleh orang dengan tingkat aktivitas tinggi, seperti atlet. Dalam hal ini, peran dokter ortopedi ahli sport dan artroskopi ortopedi sangatlah penting dalam menangani cedera akibat olahraga.

Tindakan yang Dilakukan Dokter Ortopedi Ahli Sport dan Artroskopi Ortopedi
Dokter ortopedi ahli sport dan artroskopi memiliki kemampuan untuk mendiagnosis jenis cedera yang dialami pasien beserta tingkat keparahannya.

Dalam mendiagnosis, dokter subspesialis ini dapat melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah dan urine, artroskopi, serta pemeriksaan radiologi, misalnya foto Rontgen, USG, CT scan, dan MRI.

Setelah jenis dan tingkat keparahan cedera pada pasien diketahui, dokter ortopedi ahli sport dan artroskopi akan menentukan penanganan yang tepat untuk memperbaiki fungsi anggota gerak tubuh yang cedera agar mereka dapat berfungsi kembali.

Beberapa penanganan yang dapat dilakukan oleh dokter ortopedi ahli sport dan artroskopi adalah:

Pemberian obat-obatan
Untuk menangani cedera pada pasien, dokter dapat meresepkan obat-obatan antinyeri golongan OAINS. Pada kasus cedera yang parah, dokter juga dapat memberikan obat kortikosteroid melalui suntikan atau obat minum.

Fisioterapi
Untuk membantu proses pemulihan pasien dan mengembalikan fungsi tubuh yang rusak akibat cedera, dokter ortopedi ahli sport dan artroskopi juga sering kali menyarankan pasien untuk menjalani fisioterapi. Terapi ini dapat dilakukan setelah pasien pulih dari tindakan operasi.

Daftar Obat Batuk untuk Bayi yang Aman Dikonsumsi Si Kecil

Daftar Obat Batuk untuk Bayi yang Aman Dikonsumsi Si Kecil

Batuk merupakan reaksi normal dan bentuk mekanisme tubuh untuk membersihkan lendir, kuman, dan kotoran dari saluran napas dan paru-paru. Batuk biasanya terjadi ketika tenggorokan, trakea, atau paru-paru mengalami iritasi, radang, atau infeksi.

Obat Batuk untuk Bayi yang Aman
Batuk pada bayi paling sering disebabkan oleh infeksi virus atau iritasi terhadap polusi atau kotoran, seperti debu dan asap, di udara. Batuk karena kedua hal tersebut biasanya akan reda dengan sendirinya.

Keluhan yang cukup sering terjadi ini sebenarnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan jika tidak disertai keluhan lain, seperti demam, sesak napas, dan bayi tampak lemas.

Batuk pada bayi cukup diatasi dengan memperbanyak asupan ASI dan istirahat. Namun, bila Si Kecil batuk disertai demam atau ia menjadi lebih rewel, pertimbangkan untuk memberikan dua jenis obat berikut:

Obat pereda demam
Jenis obat pereda demam yang aman untuk bayi yaitu paracetamol dan ibuprofen. Untuk bayi, umumnya paracetamol dan ibuprofen tersedia dalam bentuk sirup. Namun pemberian kedua obat tersebut ada aturannya, yakni:

Paracetamol

Paracetamol bisa diberikan bila Si Kecil sudah berusia 2 bulan, dengan syarat ia dilahirkan setelah usia kehamilan 37 minggu dan beratnya sudah lebih dari 4 kg. Paracetamol bisa meredakan demam dan nyeri akibat radang di tenggorokan yang menyebabkan bayi batuk.

Pemberian paracetamol yang tepat adalah setiap 4–6 jam sekali, serta tidak lebih dari 4 kali pemberian dalam waktu 24 jam. Agar dosis paracetamol yang diberikan sesuai, gunakan pipet atau sendok obat pada botol yang sesuai dengan takarannya.

Terlalu banyak memberikan paracetamol dapat mengakibatkan kerusakan organ hati. Oleh karenanya, pastikan untuk selalu mematuhi anjuran dosis yang diberikan. Paracetamol cenderung lebih aman untuk saluran cerna bayi dibanding ibuprofen.

Ibuprofen

Ibuprofen dapat diberikan jika Si Kecil sudah berumur 3 bulan atau beratnya lebih dari 5 kg. Ibuprofen dapat mengurangi demam, nyeri, serta mengurangi peradangan.

Namun, pemberian ibuprofen sebaiknya tidak lebih dari 3 dosis dalam jangka waktu 24 jam dan jarak waktu saat memberikan obat ini juga jangan terlalu cepat (kurang dari 6 jam). Dibandingkan dengan paracetamol, ibuprofen cenderung membuat lambung bayi tidak nyaman, sehingga ia bisa mengalami efek samping berupa mual atau muntah.

Larutan saline
Jika batuk Si Kecil tidak disertai demam, Bunda dapat memberikan larutan saline yang bisa dibeli di apotek. Selain dalam bentuk tetes, saline yang merupakan larutan garam steril ini juga tersedia dalam bentuk semprot (spray).

Larutan saline berfungsi mengencerkan lendir yang kental, maupun membantu mengeluarkan dahak pada bayi, sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan, melegakan pernapasannya, serta melembapkan jalan napas akibat udara yang terlalu kering atau kotor.

Bunda bisa meneteskan larutan saline ke lubang hidung bayi, lalu hisap lendir menggunakan alat hisap lendir yang bentuknya seperti pipet.

Perlu dipahami bahwa paracetamol, ibuprofen, dan larutan saline hanya digunakan untuk membuat bayi merasa lebih nyaman dan dapat beristirahat hingga batuknya reda dengan sendirinya.

Bunda juga sebaiknya tidak memilih obat batuk untuk bayi atau orang dewasa yang beredar di pasaran, misalnya obat pengencer dahak atau pereda batuk, yang biasanya terdapat pada obat flu. Obat-obatan tersebut tidak aman dikonsumsi oleh anak berusia di bawah dua tahun, termasuk bayi.

Selain itu, penggunaan antibiotik juga tidak selalu dibutuhkan untuk mengobati batuk pada bayi. Antibiotik hanya digunakan jika batuk pada bayi disebabkan oleh infeksi bakteri.

Untuk menentukan apakah batuk pada bayi disebabkan oleh bakteri atau bukan dan menentukan jenis antibiotik apa yang cocok digunakan, perlu dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu oleh dokter.

Ketahui Lebih Jauh Tentang Operasi Rahang

Ketahui Lebih Jauh Tentang Operasi Rahang

Operasi rahang adalah tindakan untuk memperbaiki kelainan posisi rahang dan gigi. Operasi ini sering dilakukan sebagai bagian dari operasi plastik untuk menyempurnakan penampilan wajah.

Secara umum, operasi rahang atau bedah ortognatik dilakukan dengan cara memotong tulang rahang dan mengubahnya ke posisi yang benar. Selanjutnya, alat khusus akan dipasang untuk menjaga agar tulang rahang tetap di posisinya.

Operasi rahang baru dapat dilakukan setelah rahang tumbuh sempurna, yaitu setelah usia 14 tahun pada wanita dan setelah 17 tahun pada pria.

Sebelum Operasi Rahang
Sebelum operasi rahang, dokter akan melakukan foto Rontgen pada area gigi dan rahang untuk melihat bentuk gigi dan rahang yang akan dioperasi. Selanjutnya, dokter gigi spesialis ortodontis dapat memasang kawat gigi pada pasien terlebih dahulu, yaitu sekitar 12–18 bulan sebelum operasi.

Perlu diketahui bahwa pemasangan kawat gigi ini tidak dapat memperbaiki bentuk rahang pasien, tetapi sebatas untuk meluruskan gigi sebelum operasi.

Prosedur Operasi Rahang
Prosedur operasi rahang dapat dilakukan di rahang bagian atas, bagian bawah, atau keduanya. Umumnya, operasi rahang berlangsung selama 2–5 jam, tergantung pada kondisi yang diperbaiki.

Selama tindakan di ruang operasi, pasien tidak akan merasakan apa pun karena akan diberikan bius total. Setelah bius bekerja dan pasien tertidur, dokter akan membuat sayatan di dalam mulut area rahang atas maupun rahang bawah.

Sayatan operasi tidak akan meninggalkan bekas luka di wajah, karena sayatan dibuat di bagian dalam mulut. Meski demikian, terkadang sayatan kecil perlu dibuat di bagian luar mulut.

Setelah Operasi Rahang
Lama pemulihan pasien setelah operasi berbeda-beda, tergantung pada usia dan kondisi kesehatan pasien. Namun, masa pemulihan umumnya dapat memakan waktu hingga 2–3 bulan setelah operasi. Berikut ini adalah hal-hal yang terjadi selama masa pemulihan, serta tindakan yang perlu dan tidak boleh dilakukan:

Masa pemulihan operasi rahang di rumah sakit
Setelah operasi selesai dilakukan dan efek obat bius hilang, pasien akan kembali sadar. Pasien akan merasakan kantuk, nyeri, serta kesemutan di sekitar mulut dan wajah.

Sensasi kesemutan muncul akibat efek samping obat bius yang melindungi saraf di sekitar rahang selama operasi. Selain itu, rahang yang dioperasi juga akan mengalami pembengkakan.

Pasien yang menjalani operasi rahang perlu menjalani rawat inap di rumah sakit selama 1–4 hari setelah operasi. Selama rawat inap, dokter akan melakukan pemantauan rutin pada kondisi pasien.

Masa pemulihan operasi rahang setelah pulang ke rumah
Setelah pulang dari rumah sakit, pasien diminta untuk lebih memperhatikan kebersihan gigi dan mulut. Pasien juga diminta untuk hanya mengonsumsi makanan yang lunak dan mudah ditelan.

Dokter juga akan memberikan obat pereda nyeri, serta meminta pasien untuk tidak merokok dan melakukan aktivitas berat setidaknya sampai 3 bulan setelah operasi.

Masa pemulihan setelah operasi rahang tergantung pada kondisi pasien. Pasien yang menjalani operasi rahang umumnya dapat menjalani aktivitas secara normal sekitar 1 bulan setelah operasi. Namun, pasien perlu kontrol rutin ke dokter setidaknya hingga 6 bulan setelah operasi.

Setelah operasi, kawat gigi dan retainer gigi akan tetap digunakan hingga beberapa tahun untuk menyempurnakan bentuk rahang dan menjaga agar posisi rahang tidak berubah.

Kanker Gusi, Kenali Gejala dan Cara Menanganinya

Kanker Gusi, Kenali Gejala dan Cara Menanganinya

Kanker gusi terjadi ketika sel-sel gusi tumbuh di luar kendali. Jenis kanker ini sering kali tidak disadari karena gejalanya yang menyerupai radang gusi. Oleh karena itu, penting untuk mengenali berbagai gejala kanker gusi agar langkah penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Kanker gusi merupakan bagian dari kanker mulut. Kanker ini biasanya terjadi pada orang dewasa di atas usia 50 tahun. Jika terlambat terdeteksi dan tidak segera diberi pengobatan, kanker gusi berpotensi menyebar ke seluruh mulut, tenggorokan, hingga kepala dan leher.

Penyebab Kanker Gusi dan Faktor Risikonya
Kanker gusi terbentuk ketika sel gusi mengalami mutasi atau kelainan DNA. Mutasi ini menyebabkan sel terus tumbuh secara tidak terkendali. Sel-sel abnormal ini kemudian akan membentuk tumor pada gusi dan berkembang menjadi kanker.

Langkah Penanganan Kanker Gusi
Dalam mendiagnosis kanker gusi, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada gusi dan mulut serta mengambil sampel sel gusi melalui prosedur biopsi untuk diuji di laboratorium.

Setelah kanker gusi terdiagnosis, dokter sbobet akan menentukan tingkat atau stadium kanker dengan melakukan tes lanjutan, termasuk endoskopi dan tes pencitraan seperti CT scan atau MRI.

Pengobatan kanker gusi bisa bervariasi, tergantung pada lokasi dan stadium kanker. Berikut ini adalah beberapa penanganan kanker gusi:

Operasi
Pengobatan kanker gusi yang utama adalah dengan operasi. Operasi kanker gusi bertujuan untuk mengangkat sel kanker sekaligus jaringan atau sel normal di sekitarnya untuk memastikan kanker benar-benar telah diangkat.

Radioterapi
Radioterapi biasanya digunakan sebagai terapi tambahan setelah operasi. Pengobatan ini dilakukan menggunakan sinar radiasi yang diarahkan ke sel-sel kanker. Dengan begitu, sel kanker bisa mati dan terangkat.

Kemoterapi
Kemoterapi juga bisa menjadi pengobatan kanker gusi. Pada kemoterapi, penderita kanker gusi perlu mengonsumsi obat yang dikhususkan untuk membunuh sel kanker.

Perlu diketahui bahwa dokter bisa merekomendasikan kombinasi pengobatan kanker gusi, misalnya operasi yang disertai dengan radioterapi atau kemoterapi untuk memaksimalkan pengobatan dan mencegah kanker datang kembali.

Tubektomi, Ini yang Harus Anda Ketahui

Tubektomi, Ini yang Harus Anda Ketahui

Tubektomi adalah prosedur pemotongan atau penutupan tuba falopi, yaitu saluran yang menghubungkan indung telur (ovarium) dan rahim. Prosedur ini membuat sel-sel telur tidak bisa memasuki rahim sehingga tidak dapat dibuahi. Tubektomi juga dapat menghalangi sperma masuk ke dalam tuba falopi.

Sebagai salah satu metode KB yang bersifat permanen, tubektomi sangat efektif bila dibandingkan dengan KB jenis lain. Hal ini karena tubektomi tidak memerlukan wanita untuk menghitung masa subur saat siklus menstruasi, atau mengingat jadwal minum pil dan suntik KB.

Oleh karena itu, pasien dapat berhubungan seksual seperti biasa tanpa perlu ingat untuk memakai kondom. Selain itu, pasien juga mendapatkan siklus menstruasi normal dan menopause, karena tubektomi tidak memengaruhi hormon.

Tubektomi juga dapat dilakukan kapan saja, termasuk setelah menjalani persalinan normal maupun caesar.

Tujuan dan Indikasi Tubektomi
Tubektomi termasuk salah satu metode untuk mencegah kehamilan secara permanen. Oleh karena itu, prosedur ini hanya disarankan pada wanita dewasa yang benar-benar yakin bahwa mereka tidak ingin hamil.

Prosedur Tubektomi
Tubektomi dapat dilakukan di klinik atau rumah sakit terdekat. Umumnya, prosedur ini dilakukan dengan menggunakan bius total, tetapi juga bisa dengan bius lokal. Jenis obat bius ini akan ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi pasien dan jenis operasi yang hendak dijalani.

Tubektomi dapat dilakukan bersamaan dengan operasi caesar. Namun, jika dilakukan di luar operasi caesar, ada tiga jenis prosedur tubektomi yang dapat dilakukan, yaitu:

Minilaparotomi
Minilaparotomi dilakukan melalui sayatan kecil sekitar 2–3 cm di bawah pusar. Prosedur ini biasanya dianjurkan pada pasien yang mengalami obesitas, baru menjalani operasi perut atau panggul, serta pernah mengalami infeksi panggul yang berdampak pada rahim maupun tuba falopi.

Histeroskopi
Selain kedua operasi di atas, tubektomi juga bisa dilakukan dengan prosedur histeroskopi. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan alat yang disebut histeroskop melalui leher rahim atau vagina.

Histeroskopi umumnya dilakukan untuk metode tubal occlusive procedure. Prosedur ini tidak membutuhkan sayatan sehingga jarang memerlukan bius umum. Meski demikian, prosedur ini tidak disarankan pada wanita yang baru menjalani proses persalinan.

Setelah Tubektomi
Setelah menjalani tubektomi, pasien akan dibawa ke ruang pemulihan untuk dipantau kondisinya. Umumnya, pasien akan dianjurkan untuk menginap semalam di rumah sakit.

Sama seperti semua operasi, tubektomi juga berpotensi memicu efek samping. Beberapa efek sampingnya adalah nyeri pada luka operasi, lemas, pusing, sakit atau kram perut, nyeri bahu, dan perut kembung. Dokter akan memberikan obat pereda sakit untuk mengatasinya.

Bayi Tabung, Ini yang Harus Anda Ketahui

Bayi Tabung, Ini yang Harus Anda Ketahui

Bayi tabung adalah suatu prosedur yang dilakukan untuk membantu proses kehamilan. Prosedur ini dapat menjadi salah satu solusi bagi pasangan yang mengalami gangguan kesuburan untuk memiliki anak.

Proses kehamilan bermula ketika sel telur yang matang dibuahi oleh sperma di saluran indung telur. Jika sel telur yang sudah dibuahi ini menempel di dinding rahim, normalnya janin akan mulai tumbuh di rahim dan akan lahir 9 bulan kemudian.

Namun akibat kondisi tertentu, proses tersebut tidak berjalan normal. Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan pada organ panggul wanita atau masalah kesuburan pada pria. Pada kondisi tersebut, prosedur bayi tabung bisa dilakukan untuk membantu pasien wanita hamil.

Bayi tabung merupakan program untuk membantu pasien mendapatkan kehamilan, dengan menggabungkan sel telur dan sperma di luar tubuh. Setelah penggabungan, sel telur yang sudah dibuahi (embrio) akan diletakkan kembali di rahim.

Indikasi Bayi Tabung
Prosedur bayi tabung digunakan untuk mendapatkan kehamilan bagi pasien yang mengalami masalah kesuburan. Namun biasanya, sebelum prosedur bayi tabung dipilih, dokter akan terlebih dulu menyarankan metode lain, seperti pemberian obat-obatan penyubur kandungan dan inseminasi buatan.

Selain untuk mendapatkan kehamilan, prosedur bayi tabung juga dapat dilakukan untuk mencegah kelainan genetik yang diderita oleh orang tua menurun kepada janin.

Prosedur ini juga dapat dilakukan pada pasien wanita yang akan menjalani pengobatan, seperti radioterapi dan kemoterapi. Melalui prosedur bayi tabung, pasien bisa menyimpan sel telur yang sehat sebelum menjalani pengobatan tersebut.

Peringatan Bayi Tabung
Pasangan dapat melakukan prosedur bayi tabung jika kedua belah pihak sudah siap secara fisik dan mental. Pasangan akan melewati banyak proses medis dan terkadang tidak berhasil dalam sekali tindakan (siklus).

Penting untuk diketahui, bertambahnya usia wanita dapat menurunkan peluang keberhasilan program bayi tabung dan berisiko menimbulkan kelainan kromosom pada janin.

Berat badan berlebih dan gaya hidup tidak sehat, seperti kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol, juga berisiko menurunkan peluang keberhasilan bayi tabung.

Inilah Berbagai Penyebab Kanker Mulut

Inilah Berbagai Penyebab Kanker Mulut

Kanker mulut bisa menyerang lidah, bibir, gusi, pipi bagian dalam, langit-langit mulut, hingga tenggorokan. Penyebab kanker mulut diduga berkaitan dengan faktor keturunan, kebiasaan merokok, serta infeksi virus.

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat sekitar 650 ribu kasus penyakit kanker mulut yang ditemukan setiap tahun, dan lebih dari setengahnya berujung pada kematian akibat penyakit ini.

Sebagian besar kanker mulut berjenis karsinoma sel skuamosa yang cenderung menyebar dengan cepat. Akan tetapi, sering sbobet kali penderita kanker mulut tidak merasakan gejala, sehingga kondisi ini biasanya baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.

Pada saat sudah memasuki stadium lebih lanjut, kanker mulut dapat menunjukkan gejala berupa sariawan, bercak-bercak kemerahan atau keputihan di dalam mulut yang tidak membaik dalam waktu lebih dari 2 minggu, tumbuh benjolan di dalam mulut, mati rasa atau nyeri di mulut, serta sulit menelan atau berbicara.

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Mulut
Kanker mulut terbentuk ketika sel-sel di bagian mulut, termasuk lidah, gusi, dan bibir mengalami perubahan sifat (mutasi) genetik. Perubahan ini membuat sel terus tumbuh dan berkembang biak hingga membentuk kanker.

Tidak jelas apa yang menyebabkan sel-sel di mulut mengalami mutasi, tetapi diketahui ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker mulut. Salah satunya adalah jika ada keluarga kandung yang pernah menderita kanker.

Selain adanya riwayat kanker di dalam keluarga, penyakit ini juga lebih berisiko terjadi pada orang-orang yang memiliki beberapa faktor risiko berikut:

  1. Merokok

Tembakau merupakan faktor risiko terbesar penyebab kanker mulut. Mengisap rokok, cerutu, rokok pipa (cangklong), atau mengunyah tembakau dapat meningkatkan peluang untuk terkena kanker mulut antara 50 – 85%. Selain pada orang yang aktif merokok, risiko terkena kanker mulut ini juga bisa dialami oleh perokok pasif.

  1. Sering mengonsumsi minuman beralkohol

Orang yang sering minum alkohol dapat mengalami peningkatan risiko untuk terkena kanker mulut dan kanker tenggorokan hingga enam kali lipat jika dibandingkan orang yang menjalani gaya hidup sehat. Risiko tersebut akan jauh lebih tinggi jika ditambah dengan kebiasaan merokok.

Hal ini diduga karena kedua kebiasaan buruk tersebut dapat merusak sel-sel di mulut, sehingga terjadi perubahan sifat genetik yang membuat mereka menjadi ganas.

  1. Sering terpapar sinar matahari

Paparan sinar matahari atau radiasi sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan diduga bisa menjadi penyebab kanker mulut di daerah bibir. Hal ini lebih berisiko terjadi pada orang-orang yang banyak beraktivitas di bawah terik matahari.

  1. Terinfeksi Human Papilloma Virus (HPV)

HPV jenis tertentu, terutama virus HPV tipe 16, dapat menyebabkan pertumbuhan jaringan yang tidak normal di dalam mulut. Hal tersebut bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker mulut. Anda bisa terinfeksi HPV saat melakukan aktivitas seksual, termasuk seks oral, dengan orang yang menderita HPV.

Selain kanker mulut, virus HPV ini juga dapat menimbulkan beberapa penyakit lain, seperti kutil kelamin dan kanker serviks.

  1. Kurang menjaga kebersihan mulut

Kesehatan gigi dan mulut yang kurang terjaga turut berperan dalam menyebabkan terjadinya kanker mulut. Hal ini diduga berkaitan dengan luka dan peradangan kronis pada mulut akibat kurang terjaganya kebersihan mulut, sehingga sel-sel di dalam rongga mulut mengalami kerusakan.

Hal ini didukung oleh suatu riset yang meninjukkan bahwa orang-orang yang jarang menyikat gigi, tidak rutin memeriksakan kesehatan gigi dan mulut ke dokter gigi, menggunakan gigi palsu, memiliki gigi patah atau rusak yang tidak ditangani, serta sering terkena radang gusi lebih berisiko untuk terkena kanker mulut.